Advertisement
Daftar Isi

SINOPSIS DRAMA KOREA Cheese In The Trap Episode 5 Part 2

Advertisement
Baru Sinopsis, || EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS DRAMA KOREA Cheese In Trap Episode 5 Part 2

Di rumah, Seol memandangi gantungan HP singa dari Jung. “Apa ini benar mirip denganku?” kata Seol. “Sepertinya memang sedikit” kata Seol. “Sekali lagi aku yang menerima” kata Seol membatin. “Jam itu, aku ingin membeli untuknya” kata Seol bergumam. Seol mengirim pesan ke Jung yang tengah menanti sms darinya. “Senior, kau sampai dengan selamat?” Jung nampak senang lalu merebahkan dirinya ke sofa lalu mengetik pesan balasan. Seol tengah memasang gantungan hp ketika mendapat pesan balasan dari Jung yang menanyakan keadaannya.


Nampak In Ho tengah mengepel ruang belajar di tempat kursus. Dia mendapa pesan dari In Ha yang mengatakan bahwa uangnya sudah habis dan dia lapar. In Ho mengabaikan sms In Ha. In Ho melihat Seol dan menyindirnya yang minum sambil belajar. Seol malah balik menyindir In Ho yang katanya mau pura-pura tidak kenal tapi malah bicara padanya. In Ho menyangkal dan mengepel lantai yang tengah diinjak Seol sehingga Seol terdesak dan menjatuhkan bukunya. Bukunya basah, In Ho terlihat menyesal. Seol marah meninggalkan In Ho. In Ho berusaha mengejar Seol, di belakangnya nampak In Ha yang baru datang melihat In Ho.


Seol yang tengah mengeringkan bukunya didatangi In Ha, In Ha meminta Seol membayar minuman yang dia ambil. Seol nampak bingung tak mengerti.


In Ho bersedia menyemir sepatu demi meminjam catatan milik guru di tempat kursus. Saat tengah mengcopy buku tersebut, In Ho mendengar ponselnya bordering. In Ho yang mengira itu Seol segera bersikap cool. “Hai bulu anjing, jika kau tahu apa yang sedang kulakukan untukmu kau akan terkejut” kata In Ho namun suara In Ha mengejutkan In Ho. In Ha meminta In Ho membawakan apa yang dia minta dan menunggu di depan tempat kursus. Seol memandang In Ha dengan bingung. Seol berpamitan namun In Ha mencegahnya. In Ha menanyakan hubungan Seol dengan In Ho. Seol mengatakan bahwa dia dan In Ho tidak ada hubungan special. Namun In Ha heran karena In Ho terlihat buru-buru datang. In Ho memberikan buku catatan dan menyuruh Seol mengembalikan setelah mengcopy nya. In Ho menarik tangan In Ha menjauh dari Seol. Mereka masuk di salah satu sisi gedung. In Ho memarahi In Ha yang mengusik Seol. In Ha meminta uang pada In Ho, dan dia bilang kalau dia belum membayar tagihan teleponnya. Namun In Ha berseloroh bahwa nomor ponselnya bukan atas namanya. In Ho kesal mendengarnya dan hendak memukul In Ha. In Ha nampak terkejut. “Kenapa? Kau mau memukulku? Jadi pukul aku! Kau tidak jauh berbeda dengan bibi kita” kata In Ha. “Kau…” In Ho tidak melanjutkan kata-katanya “Ayo pukul aku!”


“Ayo pukul aku bibi gila!” In Ha kecil berteriak menantang. Bibinya nampak marah dan memukul In Ha. In Ho melihat In Ha yang akan dipukul lalu menarik tangan In Ha dan membawanya ke dalam kamar. In Ho mengunci pintu. “Apa kau gila? Kenapa kau harus membuat bibi marah dan memukulmu?” kata In Ho. “Wanita itu bukan bibi kita!” kata In Ha kecil. Di luar kamar, bibinya menggedor-gedor pintu. In Ha menyarankan untuk melaporkan bibinya. Namun In Ho melarang karena mereka tidak punya siapa-siapa lagi. In Ha mengambil uang dan perhiasan bibi mereka dan mau kabur. In Ho menyarankan kabur lewat jendela. In Ho sudah keluar ketika bibi berhasil membuka pintu dan memergoki mereka kabur. In Ha berteriak meminta In Ho tidak meninggalkannya. In Ho berlari keluar sementara In Ha tertangkap oleh bibi. Diluar In Ho bertemu ayah Jung. In Ha yang berhasil kabur mengadu pada ayah Jung. In Ha meminta ayah Jung untuk membawanya dan menunjukkan luka-luka lebam akibat pukulan bibinya. In Ha di masa sekarang terlihat tersenyum penuh kemenangan. In Ha bergumam “Aku pura-pura menjadi sedikit menyedihkan dan aku mendapat uang. Si anak menyedihkan. Dia masih diliputi rasa bersalah” katanya.

Seol memberikan kopi pada In Ho sebagai ucapan terima kasih. In Ho merasa senang.

Seol membantu ibunya di restoran. Ayah yang tidak suka harus membantu di restoran pergi. ibu jadi marah namun ditenangkan oleh pamannya. Ibu meminta Seol menghubungi Jun.

Seol tengah tertidur saat mendengar teleponnya bordering. Jung meneleponnya, menanyakan apakah Seol sedang tidur. Seol ketiduran karena setiap akhir minggu membantu ibunya seharian. Jung ingin bertemu, Seol menyuruh Jung ke bar dekat rumah Seol.


Ass Heo sedang tiduran di kamar Joo Yoong. Dia mencoba menghubungi Joo Young namun tidak diangkat. Joo Yoong minum di bar. Ketika Jung masuk, Joo Young mengenali Jung, dan menyuruhnya duduk bersama untuk minum. Joo Young senang bertemu lagi dengan Jung. jung menatap Joo Young dan bertanya mengenai penampilan Joo young. “Aku berkencan dan diusir dari rumah karena keluargaku menentangnya” kata Joo Yong. “kau diusir karena pacaran?” Tanya Jung. “Sepertinya begitu, tapi apa yang bisa kulakukan? hanya dia satu-satunya yang bisa menerimaku apa adanya” katanya sambil terkekeh. “Joo Young kuatkan dirimu dan kembalilah ke rumah” kata Jung. “Hey, kau tahu tentang cinta? Kau hanya bergaul dengan orang-orang yang berpenampilan baik. Yah aku menebak kalau orang yang tidak punya apa-apa tidak mungkin bersama denganmu” ekspresi Jung berubah. Joo Young terlihat takut. “Jung maksudku…kau tidak melakukan hal yang salah. Aku pasti sangat mabuk. Jangan pikirkan yang aku katakan” kata Joo Young gugup. Jung mengajak Joo Young pulang. Namun Joo Young menolak dan meminta Jung membayar minumannya. Seol datang menghampiri Jung. Joo Young menyapa Seol “Sayang, apa yang kau lakukan disini?” Seol buru-buru menjelaskan pada Jung kalau Joo Yong tinggal di sebelah rumahnya, dan memang begitu gaya bicaranya. Seol memandang penasaran “Bagaimana kalian bisa duduk bersama?” “Ada apa ini? kalian saling mengenal?” Seol memandang Jung dengan kikuk. “Kalian pacaran?” Joo Young nampak terkejut.

In Ho tengah berjalan pulang ketika melihat seseorang yang mencurigakan bersembunyi di belakang mobil dan memungut batu bata. “Akhir-akhir ini banyak orang yang bertindak aneh” kata In Ho sambil bergumam. In Ho baru sadar kalau orang aneh itu menuju kediaman Seol. Meski awalnya tak peduli namun In Ho memutuskan mengecek.


Heo keluar dari rumah. Pria aneh yang dilihat In Ho memukul kepalanya dan mengambil kunci lalu melarikan diri. In Ho yang melihat dari jauh segera berlari ke arah Heo yang tergeletak. Wanita yang baru keluar dari rumah terkejut dan berteiak. In Ho menyuruh wanita itu menelepon polisi.


Joo Young masih minum-minum. Jung menggendong Joo Young ke kamarnya. Seol membantu menyiapkan kasur untuk tidur. Jung mengambil kunci rumah Joo Young. Jung menyuruh Seol menyerahkan kunci rumah kepada Joo Young. Ketika akan keluar Seol tersandung dan nyaris jatuh, untung saja Jung dengan sigap menangkap tubuh Seol. Seol membatin, apa yang harus dilakukan di saat menghadapi situasi seperti ini. “Apa aku harus mengajaknya masuk dan menawarkan kopi, ramen, ah tidak ini aneh. Ayo pikirkan soal ini” kata Seol dalam hati. “Aku mungkin suka hal ini tapi mungkin lain kali” kata Jung seperti bisa membaca pikiran Seol. Setelah mengusap poni Seol, Jung mengucapkan selamat tidur.

Paginya polisi berkumpul di depan rumah. Seorang wanita mengaku diintip saat mandi. Joo Young membantah dirinya mengintip. Polisi menanyakan kemana Joo Young sekitar jam 9. Kebetulan Seol datang dan membuat alibi kalau Joo Young sedang minum-minum bersama Seol. Polisi juga memberitahu bahwa dia dapat laporan pencuri celana dalam. Polisi meminta ijin menggeledah dan Joo Young mempersilahkannya. Saat digeledah ternyata ditemukan pakaian dalam wanita termasuk milik Seol. Seol sendiri tidak percaya dengan yang dia lihat. Polisi membawa Joo Young ke kantor polisi.

Di kantor polisi Seol menerima telepon dari Jung. Seol memberitahu bahwa dia ada di kantor polisi. Joo Young mengatakan bahwa dia mahasiswa hukum. Seol menjelaskan kepada Jung, bahwa Joo Yoong ditangkap karena di kamarnya ditemukan pakaian dalam wanita. Seol bertanya apa yang harus dilakukan. Jung terdengar tidak cemas “Jika mereka menemukan pakaian dalam di sana apa yang bisa dia lakukan. Jika dia bukan pelakunnya di pasti segera dibebaskan, jangan khawatir” kata-kata Jung membuat Seol bertanya-tanya “Bukankah mereka seharusnya bersahabat?. “Korban penyerangan dengan batu bata adalah Yoo Seobku?” Joo Young terdengar kaget. Dia segera berlari keluar hendak mencari ass Heo. Polisi mengejarnya, dan Seol terlihat bingung.

“Apa yang terjadi sebenarnya” kata Seol dalam hati saat keluar dari kantor polisi. Pertama tetangga sekarang ass Heo. Langkah Seol terhenti melihat In Ho ada di seberang sedang merokok. In Ho juga tak kalah kaget “Apa yang dia lakukan disini?” Seol dan In ho berjalan bersama. “Aku melaporkan kecelakaan tapi malah dicurigai sebagai pelaku. Itu sebabnya orang bilang ‘tidak ada gunanya melakukan melakukan kebaikan’” kata In Ho kesal. “Tetap saja yang kau selamatkan itu asisten dosen di jurusanku. Kau melakukan hal yang baik” kata Seol memuji. “Bagaimana? Dia baik?’ Tanya In Ho. “Ya, syukurlah dia baik” Seol bertanya-tanya mengapa ass Heo ada di sana. Dan mengapa In Ho ada di depan rumahnya? In Ho malu karena ketahuan. Dia segera berdalih kalau dia mengejar si pelaku dan berakhir di depan kediaman Seol. Seol berterima kasih dan In Ho minta dibalas dengan makan. In Ho meminta maaf soal kakaknya dan meminta Seol untuk lari jika bertremu kakaknya.


Saat hendak masuk ke kamarnya, Seol mendengar suara perdebatan antara tetangganya, Joo Young dan seorang pria. “Pakaian dalam wanita? Apa ini masuk akal?” “Kau benar-benar percaya?” Seol berpikir “Apakah dia (Joo Young) sudah kembali?” kata Seol, dia memutuskan mendatangi Joo Young.

“Kau bahkan tidak pernah belajar. Kau bahkan tidak pernah mengangkat teleponku. Dan sekarang kau berkeliling mendapat masalah seperti ini” Seol tertegun mengenali suara tersebut. Joo Young dan ass Heo masih berdebat. Heo marah dan keluar dari ruangan. Dia terkejut melihat Seol berdiri di depan pintu. Seol menjelaskan bahwa dia datang untuk mengetahui Joo Young. Heo bertanya bagaimana Seol bisa ada disitu. Seol menjelaskan bahwa dia tinggal di sebelah. Tak disangka Heo tiba-tiba marah. “Hay, apa kalian berdua bersenang-senang memanfaatkan kelemahanku. Kau senang datang ke sekolah gratis belakangan ini? beasiswa diberikan padamu kemudian kerja di kantor. Hidupmu pasti sangat indah kan?” kata Heo. “Apa?” Seol tidak paham maksud Heo. “Kau tidak tahu? Yoo Jung mengancamku dan membuatku membuang laporannya supaya kau mendapat beasiswa” Seol terpaku. “Apa maksudmu? Anak kaya yang selama ini mengancammu hingga saat ini adalah Yoo Jung? Tanya Joo Young. “Kau tidak tahu?” kata Heo. “Huh! Kau tidak tahu?” Tanya Heo lagi kepada Seol.

Jung tengah menyetir ketika Seol meneleponnya untuk bertemu. Seol menunggu di bangku taman. Jung mendatanginya dengan senyum menghiasi bibirnya. “Seol!” Jung melihat Seol diam saja. “Seol mengapa kau duduk disini seperti itu?” Tanya Jung. “Mengapa tadi kau memutuskan telepon begitu saja? Apa terjadi sesuatu? Tanya Jung. Seol memandang Jung dan berkata “Senior. Ass Heo mengatakan, kau membuatnya berpura-pura menghilangkan laporanmu tahun lalu. Kau sengaja memintanya supaya aku mendapat beasiswa. Apakah itu benar?” Tanya Seol. “Iya” kata Jung. “kenapa?” Tanya Seol. “Aku tidak ingin kau cuti dari sekolah” kata Jung. “Dulu, kita bahkan tidak pernah berbincang” “Aku ingin dekat denganmu. Seperti katamu kita bahkan tidak pernah saling bicara dulu. Kita bahkan memiliki kesalah pahaman juga. Kemudian aku dengar kau ingin mengambil cuti. Aku ingin menolongmu tapi aku tidakmemilki cara. Jadi aku merelakan beasiswa” kata Jung. Seol memandang Jung dengan mata berkaca-kaca. “Kau ingin dekat denganku. Kau ingin menyelesaikan kesalahpahaman kita. Jadi selama satu semester ass Heo dikenal sebagai asisten dosen terburuk. Dan aku menjadi mahasiswa yang mendapat beasiswa dengan cara tidak adil. Aku bahkan tidak tahu hal itu dan tertawa di depan ass Heo. Aku kesal padanya karena tidak menyukaiku” kata Seol.

“Aku tidak bermaksud menjadikannya korban. Dia yang lebih dulu bersalah padaku aku memintanya menukar laporan sebagai gantinya. Kami membuat kespakatan dan itu sudah berakhir” kata Jung. “Kau bilang semua sudah berakhir?” Tanya Seol. “Iya sudah berakhir” kata Jung. “Seol, jangan bertengkar untuk sesuatu yang telah terjadi” kata Jung. Seol memandang Jung “Bagaimana semua terlihat jelas dan sederhana untukmu senior?” kata Seol. “Aku sudah mengatakan semuanya” kata Jung. “Ass Heo masih dicaci oleh para mahasiswa sampai hari ini. Dia membenciku. Apa kau pernah menyadari ini dari sudut pandang nya?” kata Seol. “Aku minta maaf jika tidak berpikir ke sana. Tapi pada akhirnya, aku melakukan ini untukmu. Aku ingin kau tahu itu” kata Jung. “Aku minta maaf tapi aku harus pergi” kata Seol. Jung berusaha menahan Seol dengan menarik tangannya. Seol memandang Jung, dalam hati dia berkata “Harga diriku sangat terluka. Aku kira aku akan gila. Aku tidak bisa bernafas mengetahui orang lain terluka karena sesuatu yang dilakukan untukku” Seol mengatakan “kata terima kasih , aku rasa aku tidak bisa mengatakannya” kata Seol sambil berbalik pergi meninggalkan Jung yang masih berdiri terpaku. “Aku tidak mau dimanfaatkan untuk menerima dari orang lain sepanjang waktu. Tanpa menyadarinya aku terus menerima sesuatu darinya. Yang membuatku lebih marah lagi adalah diriku tergerak dengan kata-katanya yang mengatakan dia melakukannya demi aku” Jung nampak marah. “Aku sudah berkata jujur, jadi aku akan..” Jung mengeluarkan ponselnya. “Ass Heo, dimana kau berada sekarang?

6 bulan yang lalu pada acara pesta kelas. Jung memergoki ass Heo mengambil uang dari dalam dompet yang jatuh. Jung mendatangi kantor administrasi dan meminta ass Heo membuang laporannya. “Kenapa aku harus membuang laporan yang sempurna?” Tanya Heo. Jung memaksa untuk membuangnya sebelum laporan dinilai. Heo memperingatkan jika Jung dapat 0 maka dia tidak mendapat beasiswa. Heo bertanya jika laporan dia buang bagaimana dia bisa bertanggung jawab terhadap professor. Jung mengatakan Heo harus melakukannya. Karena Heo harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.

Kembali ke saat ini. Heo terduduk sambil mengeluh “Jung benar-benar anak yang menakutkan” “Jika dia merasa menderita karena suatu hal dia akan membuatmu membayar untuk itu” kata Joo Young. Heo khawatir Jung akan menyebarkan rumor. Jung datang dengan wajah penuh kemarahan. Menurut Jung mereka sudah sepakat untuk berpura-pura taka da yang terjadi, namun Heo mengacaukannya. Jung sangat kesal dan ingin menghajar Heo, namun dicegah oleh Joo Young. Heo mencoba melawan menantang namun Joo Young menghalangi. Jung bertanya mengenai hubungan Joo Young dan Heo yang terlihat ‘tidak wajar’. “Yang satu pencuri kartu dan yang satunya pencuri pakaian dalam. Joo Young apa orang tuamu tahu yang terjadi?” Tanya Jung. Joo Young membela Heo dan mengatakan bahwa Heo melakukannya demi dirinya. Joo Young juga bilang kalau bukan dia pencuri pakaian dalam. Jung mengatakan bahwa hal itu bisa dibuktikan jika Joo Young bisa membersihkan namanya. Joo Young merasa kesal “Yah inilah Yoo Jung. Kau tidak pernah mengerti perasaan orang lain dan mengabaikan mereka. Kau tak perlu berbuat banyak untuk membuatmu menginjak semua orang. Kau menjadi lebih buruk dari sebelumnya” kata Joo Young. Jung nampak kesal “Kau mau bilang ini semua salahku?” kata Jung “Orang ini merusak semuanya termasuk kau. Situasiku sekarang juga. Bagaiman kau bisa mengatakan pada Seol…” kata Jung hendak memukul Heo “Jung maafkan aku” kata Joo Young. Joo Young bahkan berlutut supaya Jung memaafkan Heo. Jung bersedia asalkan Joo Young pulang ke rumahnya. Karena dia tidak ingin melihat Seol dikelilingi orang seperti Heo dan Joo young. Joo Young hendak menolak namun Jung mengancam akan memberitahu keluarga Joo Young. Jung meninggalkan mereka. Heo nampak sedih karena Joo Young akan kembali ke rumahnya. Joo Young menenangkannya.


Di rumah, Jung bermain game. Dia memikirkan kata-kata Joo Young soal dirinya yang tidak pernah berubah. Tidak pernah mengerti perasaan orang lain. Jung juga ingat yang dikatakan Seol saat di taman. “Apa aku aneh? Caraku melakukan dan berpikir? Kenapa? Tentang apa?” Jung ingat permintaan Seung Chul untuk mengampuninya. Kemudian Jo Yeon yang juga memintanya untuk memaafkannya. Jung juga ingat bagaimana In Ho begitu marah saat mereka bertemu di rumah Jung. “Bukan aku yang aneh, tapi kalian semua” Jung ingat saat pesta penerimaan siswa dan dia sengaja menumpahkan bir ke rok Joo yeon. Saat itu Seol melihatnya “Kau juga (Seol) saat kau mengetahui (air yang sengaja ditumpahkan) kau tersenyum sinis. Kau menghakimiku dengan pendapatmu sendiri. Dan berbalik. Seol, aku tidak aneh”

BERSAMBUNG KE || SINOPSIS DRAMA KOREA Cheese In Trap Episode 6 Part 1

Komentar:

Dibuka dengan kesalahpahaman dan diakhiri dengan kesalahpahaman lagi. Nampaknya drama ini ingin menunjukkan bahwa menjalin hubungan tidak cukup hanya bermodalkan rasa cinta namun juga membutuhkan kepercayaan dan pengertian. Jung dengan semua karakter ‘gelap’nya memiliki rasa yang tulus kepada Seol. Namun Seol yang selalu mengkhawatirkan sisi buruk dan masa lalunya bersama Jung kerap dibayangi ketidak percayaan pada Jung.

Nampaknya Jung tidak pernah merasa dirinya salah dan berpikir justru orang lain yang berbuat salah namun menyalahkan dirinya. Sebaliknya Seol merasa ada yang salah pada sikap Jung, namun Seol sendiri tidak menyadari bahwa dirinya juga bukan seseorang yang sempurna dan memiliki kesalahan juga.

Sementara In Ho dengan segala kekurangan dan keliarannya, dia memiliki masa lalu buruk yang kerap membuatnya merasa bersalah pada kakaknya In Ha. In Ha tahu benar bagaimana memanfaatkan rasa bersalah dan rasa kasihan orang lain padanya untuk mendapatkan keuntungan. Mungkin hal inilah yang mmebuat Jung tidak menyukai In Ha. Karena In Ha memanfaatkan rasa kasihan ayah Jung untuk memperoleh kehidupan yang mewah. Dan jika melihat bagaimana reaksi Jung terhadap kasus Joo young, bisa dibilang Jung adalah tipikal orang yang tidak mau peduli dan membiarkan segalanya terjadi. Karena itu bisa dipahami bagaimana Jung memilih untuk tidak menolong In Ho saat In Ho dikeroyok karena (mungkin) hal itu terjadi karena In Ho sendiri yang memulai ‘genderang perang’ melihat sifat In Ho yang mudah tersulut emosi, bisa jadi memang insiden itu terjadi akibat perbuatan In Ho sendiri. Dan Jung yang memang beranggapan bahwa “Apa yang kau lakukan adalah tanggung jawabmu sendiri” pastinya tidak ingin terlibat. Meski secara etika hal tersebut tidak manusiawi namun bagi Jung itu bukan menjadi tanggung jawabnya.

Advertisement