SINOPSIS Gangaa SCTV Episode 8 (Lengkap)

Advertisement
Baru SinopsisMaharaj Ji datang untuk membangunkan Gangga namun dia tidak ada di tempat tidur.  Dia memanggilnya, mengira kalau Gangga mungkin mandi lebih dulu.  “Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak mandi sebelum aku mandi”.  Namun, pelayan membantahnya dan mengatakan Gangga tidak ada di kamar mandi.  mendengar kegaduhan yang mereka timbulkan.  Nenek mengecek ke kamar Niranjan, namun  Gangga tidak ada disana.  Nairanjan mulai khawatir.  Nenek berpikir bahwa Gangga telah melarikan diri.

 Tak ada satupun yang menemukan Gangga.  Niranjan menanyakan pada semua orang apakah mereka mengatakan sesuatu pada Gangga.  Mereka semua menyangkal.  Nenek mengatakan ini akan menjadi masalah ganda untuk mereka, apakah dia tinggal atau pergi dari rumah.  Dunia ini tidak aman.  Maharaj mengatakan bahwa Gangga mungkin menemukan orang lain yang kasihan padanya.  Mengapa dia harus tetap disini?  Pelayan juga menyebut gangga anak nakal.  Dia tidak dapat tinggal di satu tempat untuk waktu yang lama.  Niranjan pergi keluar untuk mencarinya karena khawatir Gangga terlibat masalah.

Sagar terbangun dan menanyakan tentang Gangga.  “Aku ingin bermain dengan Gangga”.  Pelayan memberitahu bahwa Gangga sudah pergi namun nenek menyuruhnya diam.  Sagar mulai panic.  “Benar kana pa yang kukatakan ke ibu bahwa dia akan pergi jika aku tidur.  Dengan siapa aku akan bermain sekarang? Aku ingin bermain dengannya”.  Nenek meyakinkan bahwa Gangga akan segera kembali.  Sagar bersikeras untuk bermain bersama Gangga sekarang juga.  Madhvi mengingatkannya bahwa dia harus ke sekolah.  Nenek memberinya uang untuk menikmati jajanan kesukaannya.
Di luar, Niranjan bertanya pada orang-orang di jalan mengenai Gangga namun taka da satupun yang melihatnya.  Sagar mengatakan pada ibunya, bahwa dia akan bermain dengan Gangga saat pulang dari sekolah.  Dia mengangguk.  Sagar bersiap pergi ketika nenek datang mengahampiri.  “Kau juga akan melihatku bermain hari ini kan? Aku akan memukul 4 dan 6 dan akan kubuat Gangga seriang berlari”.  Nenek setuju.  Madhvi bergegas membungkus makan siangnya dan nenek membawanya sehingga Sagar bisa sarapan terlebih dahulu.

Madhvi memanggil pelayan, namun si pelayan tidak kunjung menghampiri.  Si pelayan tengah membersihkan kamar Madhvi saat itu dia menyadari kalung Madhvi tergeletak di meja.  Dia segera mengambilnya, menyembunyikannya di bawah handuk saat Madhvi datang.  Pelayan menyembunyikan kalung itu di bajunya setelah Madhvi keluar kamar.
Niranjan melanjutkan pencarian.  Raghav Ji menemuinya.  Dia meminta Niranjan untuk mengikutinya.

Madhvi merasa senang karena Sagar tidak lagi bertanya tentang Gangga dan pergi ke sekolah.  Nenek mengeluh berpikir apa yang harus mereka lakukan saat Sagar kembali dari sekolah dan Gangga belum pulang.  Pelayan mengatakan hal yang buruk tentang Gangga.  “Dia melihat-lihat seluruh isi rumah” Nenek menyuruh pelayan untuk melanjutkan pencarian Gangga.  “Bagaimana jika dia bersembunyi di dalam rumah seperti sebelumnya?”  Nene menyuruh Madhvi memeriksa setiap kamar baik-baik.  “Bagaiman jika dia mengambil sesuatu yang berharga bersamanya?”  Madhvi  tidak merasa bahwa Gangga dapat melakukan hal seburuk itu namun pelayan menambahkan minya ke dalam api,  “Dia pernah mencuri permen cokelat Sagar kemarin”.  Nenek sangat marah dia menyuruh semua orang mengerjakan yang harus mereka kerjakan.  Ini akan menjadi masalah saat sagar pulang ke rumah.  Pulkit kembali.  Dia juga tidak mendapat petunjuk tentang Gangga.  Nenek bertanya-tanya kemana Gangga memghilang

Raghav membawa Niranjan ke jembatan.  Pemerintah  telah membuat rencana untuk melakukan upacara terakhir untuk para jenazah bersama-sama. Sejak pagi Gangga mencari ayahnya diantara tubuh-tubuh yang terbujur kaku.  Mereka melihat Gangga tengah memeriksa setiap mayat.  Gangga mengenali tangan yang tengah menggenggam gelang.  Gangga berjalan mendekat ke tubuh itu.  Dia ingat saat melihat ayahnya membeli gelang untuknya terakhir kali mereka bersama.  Dia mengambil gelang di tangan mayat tersebut.  Angin bertiup menyingkap kain penutup mayat dan Gangga menangis melihat wajah mayat itu yang ternyata ayahnya.  Raghav ji menutup kembali mayat itu sedangkan Niranjan menenangkan Gangga.

Madhvi memberi sejumlah uang pada Pulkit sehingga dia bisa pergi ke pengadilan dan menanyakan tentang Gangga pada ayahnya.  “Aku sangat khawatir” Pulkit bergegas pergi.  Madhvi mengenakan perhiasannya karena nenek tidak suka jika dia tidak mengenakan apapun.  Madhvi mencari kalungnya namun tidak dapat menemukannya di manapun.    “ Aku menyimpannya di meja rias semalam”.  Ibu mertuanya memarahinya.  Pelayan mencurigai Gangga.  Inikah alasan kenapa dia menghilang? Nenek setuju.  Tentu saja pelayan itulah yang mengambil dan dia telah pergi karena tahu bahwa dia mungkin akan tertangkap.  Madhvi tidak merasa demikian, namun nenek berkeras.  “Dia mendapat setiap fasilitas di sini.  Ini alasan mengapa dia pergi.”  Madhvi membela Gangga namun nenek menyuruhnya diam.  “Aku tahu ini akan terjadi.  Dia dapat membodohi kalian semua tapi tidak denganku.  Aku dapat mengerti dari sekali melihatnya bahwa gadis itu pencuri”.  Pulkit kembali ke rumah.

Madhvi tidak percaya Gangga mencuri.  “Mengapa dia harus mengembalikan kalung milikku kemarin, jika dia ingin mencurinya?”  nenek sangat kesal.  “Aku merasa kasihan denganmu”.  Sagar pulang juga.  “Mengapa nenek marah? mengapa dia memarahi ibu?”  nenek menyuruh mereka menghubuingi polisi untuk membuat laporan.  “hubungi Niranjan katakan padanya bahwa Gangga sudah kabur”.  Sagar tidak terima.  “Tapi kau bilang dia akan kembali saat aku pulang dari sekolah? Nenek mengatakan bukan seperti itu dia telah mencuri dari lemari di kamar ibumu.  Sagar terkejut.  “Dia masih mudaa.”  Pelayan ikut menghasut melawan Gangga.  Sagar berkari ke tangga untuk memeriksa mainannya.  Pulkit menggelengkan kepalanya takpercaya.

Mainan Sagar masih ada.  Madhvi menyarankan pada nenek untuk tidak menanamkan pikiran buruk kepada seorang anak.  Nenek menyebutnya berhati-hati.  Kau sangat ceroboh dan lupa dimana posisimu.  Kita bisa seitdaknya mengajari anak—anak.

Gangga mengingat saat bermain bersama ayah di rumah, dia menunjukkan cintanya setiap waktu.  Pendeta membawa guci dari uoacara namun tidak memberikannya pada Gangga, mengingat Gangga seorang gadis.  Seorang gadis tidak melakukan upacara.  Ini adalah hak seorang anak laki-laki.  
Biarkan dia melakukannya, Pendeta menolak untuk melawan kitab.  Panggil saja  saudara yang lain, tapi seorang gadis tidak boleh melakukan ritual.  Niranjan mengatakan “Aku juga menghormati kitab dan dharma namun aku tidak percaya peraturan seketat ini.  “Akankah jiwa orang ini dapat damai? Akankah dia menolak upacara terakhir jika memang tidak memiki anak? Ini tidak adil. Kita tidak dapat menyebut diri kita manusia jiak tidak bisa menghargai yang sudah pergi. biarkan gadis itu melakukan ritualnya.

Gangga membawa kendi berisi air untuknya ke lengannya den berjalan mengelilingi api.  Dia menjatuhkannya ke tanah dan membakar persemayaman.  Gangga mengingat masa-masa bahagia bersama ayahnya.

Precap:  Sagar meminta Gangga bermain bersamanya namun dia menolak.  “Aku tidak menyukainya”.  Dia tahu bahwa dia tengah sedih karena tidak memiliki siapapun.  Namun bagaimana kau bisa sendirian ketika aku bersamamu? Gangga memandangnya.


^^ Terima Kasih Telah Berkunjung
Sinopsis Inggris By Pooja
Translate Indonesia by Whatea
Advertisement
Advertisement

Click to comment