SINOPSIS Lucky Romance Episode 4 Bagian 2 (Drama Korea)

- Selasa, Juni 14, 2016
advertise here
Advertisement
Advertisement

BARU SINOPSIS ||  SINOPSIS LUCKY ROMANCE EPISODE SEBELUMNYA   || SINOPSIS Lucky Romance Episode 4 Bagian 2 : Malamnya, Bo Nui memilih pakaian yang akan dia kenakan Besok. Dia juga membooking kamar hotel. Bo Nui keluar dari rumah hendak pergi kencan.


Gary memanggil Bo Nui sehingga Bo Nui menghentikan langkahnya. Gary bertanya kemana Bo Nui mau pergi karena dia ingin mengajak Bo Nui makan malam bersama. Bo Nui berbohong mengatakan dia akan pergi bekerja. Bo Nui meminta Gary untuk tidak melewatkan makan.


Bo Nui menunggu di depan hotel. Dia merapikan make upnya. Bo Nui melihat ke sekeliling dan teringat sesuatu.



Soo Ho turun dari mobilnya dan melihat Bo Nui tengah minum obat. Dengan santai Soo Ho bertanya mengapa Bo Nui menunggu di luar dan dia berjalan ke dalam. Bo Nui tertegun melihat Soo Ho yang datang dengan pakaian sehari-hari dan mengenakan sandal.



Soo Ho menguap lebar. Bo Nui berkata bahwa Soo Ho terlihat sangat lelah. Soo Ho mengatakan dia tidak cukup tidur dan karena ada kontrak pegawai yang aneh dia jadi melewatkan tidurnya namun tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah telanjur berjanji. Bo Nui mengerti bahwa Soo Ho tengah menyindirinya. Bo Nui bertanya apakah Soo Ho sudah makan. “Aku belum makan, tapi aku tidak merasa lapar” kata Soo Ho, Bo Nui hanya memandangnya. “Aku akan makan jika kau makan. Itu hal biasa saat berkencan” kata Soo Ho. “Kalau begitu bagaimana jika kita makan di kamar” kata Bo Nui. Soo Ho tercengang.


Bo Nui berkilah bahwa dia baru saja memenangkan promosi kontes. Bo Nui juga mengatakan bahwa pemandangan malam dari hotel terlihat sangat indah dan sayang jika mereka melewatkannya. Soo Ho menghela nafas. Bo Nui terus berusaha membujuk dan Soo Ho akhirnya beranjak dari kursinya. Bo Nui mengira Soo Ho hendak meninggalkannya, namun Soo Ho mengambil kartu kamar dan mengajak Bo Nui bergegas ke kamar untuk makan.



Bo Nui nampak makan dengan lahap, sementara Soo Ho hanya diam saja. Dia tidak menyentuh makanannya sedikitpun. “Mengapa kau tidakmakan?” tanya Bo Nui. “Jangan mengkhawatirkanku makanlah” kata Soo Ho setengah berbisik. Bo Nui mengatakan dia mengganti sirloin dengan salmon steak untuk Soo Ho. Soo Ho mengatakan dia tidak suka ikan karena baunya. Bo Nui mengatakan dia mendengar Soo Ho suka ikan “Bukankah kau dulu tinggal di dekat laut?” tanya Bo Nui. “apa kau melakukan penyelidikan latar belakang?” tanya Soo Ho. Bo Nui berkilah dia bahwa Soo Ho dulu sangat terkenal (Bo Nui mengetahui dari artikel tentang Soo Ho). Soo Ho berkilah bahwa dia sudah tidak suka lagi dengan ikan. Bo Nui menawarkan roti sebagai pengganti, namun Soo Ho malah memilih meminum air. “Lalu makanan apa yang kau suka?” tanya Bo Nui. “Aku akan suka hidup dengan pil. Itu yang akan aku lakukan saat pensiun. Sesuatu yang dapat memberimu semua energy yang kau butuhkan dalam satu pil” kata Soo Ho. Bo Nui terperangah. “Kau bahkan tidak tahu bagaimana menikmati makanan. Bagaimana kau bisa hidup seperti itu?” tanya Bo Nui. “Kau suka makanan manis, cokelat dan semua yang berbahan tepung kan?” tanya Soo Ho diiyakan Bo Nui “Itu menunjukkan bagaimana tidak bahagianya hidupmu” kata Soo Ho “tubuhmu kekurangan serotonin dan dopamine, dan kau merasa gelisah itu membuatmu kelebihan makan dan jadi terobsesi dengan makanan. Itu alasannya” kata Soo Ho. Bo Nui memandang Soo Ho dan berkata “Bagaimana kau tahu aku tidak bahagia dengan hidupku” kata Bo Nui. Bo Nui merasa dia tidak akan begitu lagi dengan mengingatkan dirinya untuk selalu bahagia. “Kau harus terus mengucapkan hal positif untuk menerima energy positif” kata Bo Nui.


“Itu di sebut cognitive dissonance. Dengan kata lain kau tengah mencoba lari dari kenyataanmu” kata Soo Ho. Bo Nui kehabisan kata-kata. “Kau terlihat begitu….pintar” kata Bo Nui menahan kesal. “Tentu saja, aku Je Soo Ho si jenius” kata Soo Ho dengan bangga. Bo Nui tertawa. Ketika Soo Ho tengah mengamati isi kamar, Bo Nui sengaja menumpahkan air ke bajunya. Dia permisi ke toilet sementara Soo Ho nampak bingung dan berpikir bagaimana bisa airnya tumpah.


Bo Nui ke kamar mandi. Dia menyalakan keran air. Dan berlatih bicara untuk mengajak Soo Ho tidur dengannya. Bo Nui keluar dari kamar mandi dengan mengenakan lingerie. Dia berjalan menghampiri Soo Ho yang duduk di sofa. Bo Nui berdiri di samping Soo Ho dan mulai bicara, namun dia tterkejut saat tangan Soo Ho terkulai ke samping sofa.



Bo Nui terkejut melihat Soo Ho tertidur. Dia terduduk lemas. Dia memandang Soo Ho yang tertidur. “Dia sebenarnya terlihat manis saat tidur” kata Bo Nui. “Lalu?” tanya Soo Ho. “Apa yang seharusnya aku lakukan?” Bo Nui berteriak kaget dan menutupi tubuhnya. “Selesaikan kalimatmu” kata Soo Ho. Bo Nui hanya terdiam. Soo Ho mendekatkan wajahnya ke Bo Nui dan berkata “Waktu sudah habis saatnya pergi” Bo Nui panic melihat Soo Ho yang bernita pergi dan berusaha menahannya dengan mengatakan waktu belum habis. Soo Ho mengatakan bahwa dia sudah memenuhi keinginan Bo Nui untuk makan dan melihat pemandangan. Bo Nui berusaha menyergap Soo Ho namun, Soo Ho menghindar karena hendak mengambil jaketnya sehingga Bo Nui terjatuh. Soo Ho terkejut dan berusaha membantu, namun Bo Nui menyuruhnya pergi karena dia malu.


Soo Ho keluar dari kamar, terdengar suara Bo Nui meminta untuk menunggunya. Bo Nui keluar membawa pakaiannya dan buru-buru mengenakan jas panjangnya. Bo Nui berkelakar bahwa dia seperti maniak berjas. Soo Ho nampak bingung dan bertanya maksud Bo Nui. Bo Nui mengatakan bahwa ada seorang maniak yang menunggu gadis yang tengah sendirian lalu menyerangnya. “Di lingkungan rumahku ada satu sejak aku masih di sekolah menengah” kata Bo Nui. “apa kau sungguh jenius?” tanya Bo Nui meragukan Soo Ho.



Soo Ho dan Bo Nui keluar dari lift. Sekelompok orang yang mengenalinya mendekati dan mulai berteriak memanggil namanya. Mereka juga mengambil foto, sehingga Soo Ho kembali teringat dengan trauma masa kecilnya saat beberapa orang mengerubutinya. Soo Ho mulai limbung.


Bo Nui yang melihat Soo Ho kelihatan stress menerobos kerumunan dan meraih tangan Soo Ho. Dia meminta orang-orang untuk memberi jalan dan meminta maaf karena harus pergi. Bo Nui membawa Soo Ho kesebuah lounge.



Soo Ho merebahkan dirinya di sofa sambil terus menggenggam tangan Bo Nui. Bo Nui bertanya apakah Soo Ho baik-baik saja. Soo Ho menyadari tangannya yang masih menggenggam tangan Bo Nui. Dia buru-buru melepasnya. Bo Nui pamit untuk mencari minum, sementara Soo Ho masih berusaha menguasai dirinya. Saat Bo Nui kembali dia melihat Soo Ho yang tengah melafalkan perkalian 19. Bo Nui nampak prihatin.


Di mobil Soo Ho, Bo Nui nampak salah tingkah. Mereka tidak saling bicara. Akhirnya Bo Nui memutuskan membuka percakapan. Bo Nui bertanya yang tadi dilakukan oleh Soo Ho (melafalkan perkalian) juga dilakukan saat mereka bertemu di taman beberapa waktu yang lalu. Soo Ho membenarkan. “Melakukan perhitungan sederhana dapat membantumu jika kau ingin menjernihkan pikiran” kata Soo Ho. Bo Nui hendak bertanya mengenai masalah Soo Ho yang pingsan saat demonstrasi. Soo Ho memotong pembicaraan mengatakan mereka bisa membicarakannya lain kali. Soo Ho menepikan mobilnya.


Bo Nui mengajak Soo Ho minum teh di rumahnya, namun Soo Ho menolak. “Aku kira kita semakin dekat” kata Bo Nui. Mereka terdiam, Soo Ho menoleh ke arah Bo Nui dan memanggil namanya, Bo Nui terlihat senang “Kenapa kau tidak keluar?” tanya Soo Ho menghancurkan suasana LOL


Di jalan Soo Ho mengomel sendiri sambil memegang tangannya yang tadi digenggam Bo Nui. Dia merasa lebih baik jika Bo Nui membiarkannya sendiri namun kenapa Bo Nui harus menggenggam tangannya. Soo Ho ingat bahwa Bo Nui juga pernah menutup mulut Soo Ho dengan tangannya. “Seharusnya aku memasukkan klausul sehingga dia tidak menyentuhku” katanya sambil terus mengomel. Mobil Soo Ho melewati Gary yang tengah menungu di halte bus.Gary bertanya mengapa Bo Nui belum kembali. Bo Nui mengatakan dia ada di depan rumah. Gary menyuruh Bo Nui untuk menunggu dan jangan masuk dulu ke dalam rumah.


Bo Nui nampak duduk dan termenung. Gary yang melihat Bo Nui berjalan perlahan hendak mengejutkannya. Gary menepuk pundak Bo Nui yang kemudian terkejut. Bo Nui yang terkejut terlihat kesal. Gary mengatakan Bo Nui tidak boleh melamun karena banyak maniak di sekitar situ.




Tiba-tiba seseorang menerjang Gary dari samping. Mereka bergelut. Dengan mudah Gary membekuk orang itu. Gary menyuruh Bo Nui memanggil polisi ketika pria bertudung itu memanggil nama Bo Nui. Bo Nui terkejut melihat ternyata orang itu Je Soo Ho.




Soo Ho melihat siku lengannya yang lecet. Terdengar Bo Nui menanyakan keadaan Gary dan melekatkan plester ke lengan Gary. Dengan khawatir Bo Nui bertanya adakah luka lain, dan dengan manja Gary menunjukkan luka dan minta Bo Nui meniup luka itu. Soo Ho memandang dengan sebal.  Bo Nui mengalihkan pandangannya ke Soo Ho dan bertanya apakah Soo Ho baik-baik saja.


Soo Ho mengatakan dia tidak apa-apa. Bo Nui meminta Soo Ho mensterilkan lukanya, namun dengan ketus Soo Ho mengatakan tidak apa dan menegaskan dia hanya salah paham (Soo Ho mengira Gary maniak yang mengganggu Bo Nui—Bo Nui sempat berserita di hotel soal maniak yang ada di lingkungan rumahnya). Gary merasa kesal karena Soo Ho terlihat kasar. Dia bertanya jika Soo Ho bos Bo Nui, mengapa dia datang ke rumah Bo Nui malam hari. Gary menuduh Soo Ho melakukan kekerasan seksual. Dan hendak memukulnya. Bo Nui menghentikannya dan mengatakan pada Soo Ho bahwa Gary adalah teman masa kecil yang sudah seperti adik baginya sehingga dia sedikit protektif.


Dia menggiring Gary untuk keluar dari kamarnya. Sementara Soo Ho nampak mengingat sesuatu. Gary nampak kesal, namun kemudian dia berpikir, apa mungkin Soo Ho bershio harimau.



Bo Nui menutp pintu. Dia berbalik melihat Soo Ho yang tengah berusaha mengenakan plester. Bo Nui membantunya. Bo Nui menuliskan sesuatu karakter Cina dari kodok dan ular untuk membuat luka Soo Ho cepat sembuh. Soo ho terlihat kikuk saat Bo Nui menyentuh tangannya. Dia berdiri dan menegaskan untuk menambahkan klausul dalam kontrak, bahwa mereka tidak boleh saling menyentuh. Bo Nui panic, dia bertanya mana ada pasangan yang berkencan tanpa menyentuh. Soo Ho mengatakan bahwa mereka tidak benar-benar berkencan. “Aku ke sini hanya untuk mengatakannya. Aku pikir aku harus membuat batas yang jelas” kata Soo Ho. Soo Ho berbalik menuju pintu namun kemudian dia teringat sesuatu dan berbalik kembali.


Soo Ho mengeluarkan obat dari kantung jaketnya dan menyerahkannya pada Bo Nui yang tertegun tidak mengerti. Soo Ho meletakkan obat itu di lantai dan Bo Nui memungutnya. “Kau sepertinya mengalami kesulitan pencernaan. Jika kau tengah menggunakan antibiotic ambil pil di kotak berwarna biru. Jika kau tengah menggunakan pereda nyeri, ambil satu di kotak kuning. Kau pasti lebih banyak mengerti soal obat dibanding aku” kata Soo Ho. Bo Nui menatap Soo Ho, dia nampak tersentuh. “Aku yakin kau dapat membayangkannya” lanjut Soo Ho.



Bo Nui merasa heran “Maaf?” Bo Nui tidak mengerti. Soo Ho memandang Bo Nui dengan penasaran “Katakan padaku, penyakit apa yang tengah kau derita?” tanya Soo Ho. Bo Nui menatap dengan bingung. “Aku melihatmu meminum obat di hotel” kata Soo Ho. “Kau batuk setiap saat, kau juga sering cegukan, kau juga mudah terjatuh, dan kesulitan menelan. Bagaimana kondisimu?” tanya Soo Ho. “Apa?” Bo Nui masih tidak mengerti. “Apa yang akan terjadi 3 minggu lagi? Apa kau akan dioperasi? Apa kau akan meninggal? Apa yang akan terjadi?” tanya Soo Ho. “Tunggu, aku benar-benar tidak mengerti maksudmu. Mengapa aku harus dioperasi?” tanya Bo Nui. Soo Ho mengatakan bahwa dia tahu semuanya. Dan meminta Bo Nui untuk jujur. “Aku tahu waktumu tidak banyak” Bo Nui tertegun.



Bo Nui tertawa “Jadi kau mengira aku tengah menderita penyakit kronis?” tanya Bo Nui. Bo Nui menjelaskan yang dia minum di hotel adalah obat herbal karena dia sangat gugup. “Kau membodohiku?” tanya Soo Ho. Bo Nui tidak mengerti dan menyanggahnya. Soo Ho mengatakan bahwa Bo Nui sendiri yang mengatakan bahwa nyawa seseorang bergantung pada kencan mereka. Soo Ho merasa malu dan kesal, dia memutuskan untuk pergi. Soo Ho merebut obat yang dia berikan pada Bo Nui dari tangan Bo Nui. Bo Nui tertawa melihatnya, sementara Soo Ho terlihat salah tingkah.



“Ngomong-ngomong, direktur. Ternyata lebih baik dari yang aku pikir” kata Bo Nui. “Omong kosong apa yang kau katakan?” tanya Soo Ho. “Maksudku, kau mengira aku sekarat. Kau merasa tidak enak denganku dan setuju dengan perjanjian konyol” kata Bo Nui. “Kau tahu itu konyol?” kata Soo Ho kesal. “Kau khawatir dan membawakanku obat. Kau tidak pandai berkelahi, namun kau melakukannya untuk melindungiku” kata Bo Nui. Soo Ho berusaha membantah namun tidak tahu harus berkata apa. “Kau sebenarnya baik. Jika kau bicara sedikit lebih ramah kau akan menjadi pria yang sempurna” Soo Ho nampak kehabisan kata-kata.



“waktu” kata Soo Ho menunjuk jam tangannya. “Ini sudah lebih 1 jam dan 20 menit. Batalkan kencan besok dan tambahkan 1 jam 30 menit ke kencan Sabtu berikutnya. Sampai jumpa minggu depan” kata Soo Ho. Soo Ho berjalan menuju pintu untuk keluar. “Bisakah…” Soo Ho menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Bo Nui. “Menggunakan waktunya sekarang” kata Bo Nui. “Apa?” Soo Ho tidak mengerti. “Yang kumaksud 1 jam 30 menit. Mari gunakan sekarang. Tidur denganku. Tn Je Soo Ho” kata Bo Nui. Soo Ho terperangah.



---Shim Bo Nui tengah sakit keras---



Di RS saat sebuah ambulan berhenti dan membawa pasien, Soo Ho beranjak dari tempatnya duduk. Saat itu dia mendengar ratapan ibu si pasien.




Dia berhenti dan memutar tubuhnya. Dia melihat Bo Nui yang tengah membantu ibu itu mengenakan sendalnya yang terlepas. Bo Nui menggenggam tangan si ibu dan mengatakan semua akan baik-baik saja. ketika si ibu pergi Bo Nui bergumam mengatakan “Ya, semua pasti akan baik-baik saja”


Soo Ho yang melihat dari jauh merasa tersentuh. Dia mengira Bo Nui mengatakan kata-kata tersebut selain untuk si ibu juga untuk dirinya (Bo Nui) sendiri.


BERSAMBUNG SINOPSIS LUCKY ROMANCE  EPISODE 5  >

Komentar

Episode yang memuaskan. Perkembangan hubungan antara Soo Ho dan Bo Nui mulai mendapatkan jalan. Permintaan Bo Nui untuk berkencan seperti membuka jalan bagi dua karakter di drama ini menjalin kasih. Meski Soo Ho menerima permintaan Bo Nui karena mengira Bo Nui tengah sakit, namun terlihat bahwa Soo Ho cukup tulus melakukan kencan dengan Bo Nui. Tidak hanya menurut bertemu di tempat yang disiapkan Bo Nui. Soo Ho juga mengikuti keinginan Bo Nui untuk makan di kamar hotel. Saat Bo Nui terjatuh, Soo Ho juga dengan peduli mencoba membantu Bo Nui. Puncaknya saat mengira Gary adalah maniak yang diceritakan Bo Nui, Soo Ho menyerang Gary meski sadar dirinya tidak pandai berkelahi. Bo Nui pun demikian. Bo Nui dapat memahami Soo Ho yang tidak nyaman berada di kerumunan orang-orang. Bo Nui tidak hanya menarik tangan Soo ho dan membawa Soo Ho pergi, namun juga mencoba untuk tidak banyak bertanya karena tahu Soo Ho tidak suka membicarakannya.

Nampaknya kunci hati Soo Ho mulai terbuka, dan Bo Nui lah yang membukanya. Soo Ho yang arogan dan egois, perlahan dapat berempati dan mempedulikan orang lain. Nampaknya bukan hanya Bo Nui yang mendapatkan keberuntungan namun Soo Ho pun demikian(W).
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search